

TANGERANG, Republik Informasi – Anggota Komisi VII DPR RI, Samuel JD Wattimena, mendorong penyusunan buku sejarah mode Indonesia yang merekam perjalanan perancangan busana sejak era 1950-an hingga saat ini. Dokumentasi tersebut diharapkan menjadi referensi bagi generasi muda sekaligus mendukung penguatan industri kreatif.
Hal tersebut disampaikan Samuel saat ditemui di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Rabu (4/11/2026). Ia menilai, perjalanan mode Indonesia perlu dikenalkan kepada siswa sekolah menengah kejuruan (SMK) dan pelajar sekolah mode yang ingin menekuni bidang fesyen.
Menurut Samuel, buku tersebut perlu menjelaskan perkembangan industri, perjalanan para perancang, serta sistem kerja mereka dari masa ke masa. Dengan begitu, pembaca dapat memahami proses di balik lahirnya karya busana, bukan semata-mata melihat hasil akhirnya.
“Anak-anak muda perlu mengenal perjalanan mode Indonesia. Buku ini bisa menjadi referensi untuk memahami bagaimana para perancang belajar dan bekerja pada masanya,” ujarnya.
“Anak-anak muda perlu mengenal perjalanan mode Indonesia. Buku ini bisa menjadi referensi untuk memahami bagaimana para perancang belajar dan bekerja pada masanya.”— Samuel JD Wattimena
Samuel menjelaskan, akses pendidikan mode pada rentang 1950 hingga 1970-an masih terbatas. Mereka yang ingin mempelajari bidang itu umumnya harus menempuh pendidikan di luar negeri, berbeda dengan kondisi sekarang ketika pendidikan dan informasi mode semakin mudah dijangkau.
Ia juga menceritakan pengalamannya mengawali perjalanan sebagai perancang busana secara otodidak. Kegemaran menggambar membawanya mengikuti lomba perancang mode yang diselenggarakan Majalah Femina Gadis pada 1979, sebuah pengalaman yang ikut membentuk perjalanan kariernya.
“Saya berangkat dari kegemaran menggambar dan belajar secara otodidak. Banyak anak muda di daerah juga mempunyai minat serta kemampuan, tetapi biaya pendidikan masih menjadi kendala,” katanya.
Berangkat dari pengalaman itu, Samuel ingin penyusunan buku sejarah mode disertai upaya membuka kesempatan belajar. Ia menilai, minat dan kemampuan anak muda membutuhkan ruang pengembangan agar tidak berhenti karena keterbatasan biaya pendidikan.
Samuel berencana membantu siswa SMK dan lulusan sekolah mode memperoleh kesempatan magang. Ia juga ingin membangun platform untuk menampilkan karya mereka, sehingga perancang busana yang membutuhkan asisten dapat menemukan calon tenaga kreatif sesuai kebutuhan.
“Mereka membutuhkan tempat untuk memperlihatkan kemampuan. Dari situ, perancang yang sedang mencari asisten bisa mengenal karya dan potensi anak-anak muda ini,” tuturnya.
Samuel menyebut APPNI, AFDC, dan AFC sebagai sejumlah asosiasi di bidang mode Indonesia. Namun, menurutnya, calon perancang muda tetap memerlukan ruang pengenalan tersendiri sebelum terlibat lebih jauh dalam organisasi profesional.
Selain pengembangan sumber daya manusia, ia menyoroti akses pembiayaan pelaku ekonomi kreatif. Karakter usaha fesyen, menurut Samuel, tidak selalu mudah disesuaikan dengan skema pembiayaan perbankan, termasuk Kredit Usaha Rakyat (KUR).
“Usaha kreatif memiliki karakter yang perlu dipahami dalam pemberian pembiayaan. Dukungan bagi pelakunya perlu melihat kebutuhan dan cara kerja usaha mereka,” ujarnya.
Melalui tugasnya di Komisi VII, Samuel ingin mendorong dukungan yang lebih luas bagi pelaku industri kreatif. Ia menekankan bahwa potensi mode Indonesia tidak boleh dipandang sebatas kegiatan memproduksi dan menjual pakaian.
Menurut Samuel, perancang busana turut berperan menggali serta memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia. Keberagaman budaya di berbagai pulau dapat menjadi sumber pengembangan karya sekaligus sarana pelestarian kebudayaan Nusantara.
“Karya desainer juga bisa memperkenalkan budaya Indonesia. Manfaatnya diharapkan dirasakan oleh pelaku industri dan masyarakat yang memiliki serta merawat kebudayaan tersebut,” katanya.
Sementara itu, Commercial Director InJourney Airports (PT Angkasa Pura Indonesia), Veri Y. Setiady, menyambut baik kehadiran instalasi karya perancang mode Indonesia di Bandara Soekarno-Hatta. Ia menyebut instalasi tersebut sebagai bagian dari upaya transformasi bandara untuk menghadirkan pengalaman berbeda bagi pengguna jasa.
Menurut Veri, aktivitas dan fasilitas baru dapat memperkaya pengalaman penumpang selama berada di bandara. Instalasi mode juga menjadi ruang untuk memperkenalkan karya desainer Indonesia, termasuk kain tenun beserta berbagai produk turunannya.
“Bandara dapat menjadi gerbang pengenalan budaya Indonesia kepada dunia. Melalui instalasi ini, penumpang dapat mengenal karya desainer dan kekayaan kain Nusantara,” ujarnya.
Veri berharap jangkauan penumpang domestik dan internasional dapat membantu memperluas pengenalan kreativitas Indonesia. Pemanfaatan ruang publik seperti bandara diharapkan membuka kesempatan bagi karya desainer lokal untuk menjangkau masyarakat dan wisatawan mancanegara.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!